#29 Berharga

Tanggal 19 Desember 2017 sekitar pukul 5 sore aku penasaran dengan berita bunuh diri salah seorang artis dengan nama khas Korea. Lantas aku baca berita itu. Ternyata aku terlambat mengetahui kabar tersebut karena kejadiannya tanggal 18 Desember. Aku selalu terhenyak setiap mendengar kabar kematian, termasuk artis bunuh diri. Apalagi usianya masih muda (27 tahun), dikelilingi hal-hal yang sepertinya menyenangkan (uang, teman, ketenaran, dan segudang fasilitas lainnya yang tidak bisa aku bayangkan), dan ketika tahu alasannya bunuh diri semakin membuatku tak habis pikir.

Dikatakan di berita bahwa penyebab utamanya adalah perasaan tertekan, rasa sendiri. Aku sampai saat menulis ini masih belum bisa membayangkan separah apa rasanya menjadi ia yang bunuh diri karena rasa tertekan dan merasa “sendiri” setelah entah sekian lama. Bagaimana mungkin orang seperti itu bisa merasa “sendiri”? Apakah separah itu sekitarnya hingga tidak ada yang bisa diajak bercerita? Satu jam pun tak ada yang meluangkan waktunya? Atau ia yang terlalu memendam?

Terlepas dari berita di atas, sadar atau tidak, banyak orang di sekitar kita (bukan artis pun) mungkin pernah merasa di titik terendah dalam hidupnya. Hingga ia merasa tertekan, di matanya hanya ada dirinya dan dirinya lagi setiap ia mencari seseorang. Sadar atau tidak sadar. Apakah orang tersebut terlihat tertekan atau tidak, tidak ada salahnya kita mulai lebih dulu memperhatikan sekitar. Mulailah lebih dulu menyapa, bertanya, mengajak ngobrol hal ringan. Tidak perlu dimulai dengan menelisik hal-hal pribadi, apalagi bila kita tidak yakin dia sedang tertekan. Tidak perlu menunggu orang lain menceritakan masalahnya lebih dulu baru kita menanggapi. Tapi bukalah lebih dulu pembicaraan ringan hingga mungkin ia mengalir membuka dirinya (bila ia merasa nyaman dengan kita tentunya). Ingat, jangan sampai melewati batas juga karena batas perhatian dan lancang cukup tipis ehehe.

Jujur aku termasuk orang yang tidak perhatian, cenderung membatasi diri dalam mengobrol dengan orang sekitar. Setidaknya hingga beberapa bulan belakangan ini aku mulai mencoba berubah sedikit demi sedikit. Semua ini juga karena peran dari lingkungan sekitarku yang hangat dan penuh perhatian (di luar keluarga, tentu saja). Aku mulai mencoba memperhatikan orang-orang di sekitarku dengan bertanya langsung, bukan hanya mengamati (seperti yang selama ini kulakukan). Bagaimana rasanya? Keren! Aku bisa menambah teman baru, mengetahui hal-hal menarik tentang mereka, dan lebih dekat dengan mereka. Menyenangkan rasanya, ketimbang hanya duduk diam memperhatikan tanpa bicara.

Aku tahu tidak semua orang terbuka menyampaikan isi hati dan pikirannya, maka dari itu bertanya menjadi penting. Aku punya beberapa kisah nyata di mana aku menjadi pihak yang dijadikan tempat curhat oleh beberapa sahabat yang sudah kalut entah harus berbuat apa dengan dirinya. Ada yang langsung bercerita, ada yang bermula dari pertanyaan “Apa kabar?” dariku yang berlanjut dengan curhat mereka.

Sebelum maraknya berita artis bunuh diri, aku tidak menganggap telinga dan mataku ini bisa sangat bermakna bagi kehidupan sahabat-sahabatku. Tapi percayalah, aku sangat bahagia ketika mendapat pengakuan positif dari mereka setelah sekian lama kisah itu berlalu (beberapa ada yang aku sudah lupa bahkan). Memang sepertinya membaca dan mendengar cerita seseorang terlihat sepele (apalagi jika tidak ada solusi yang kita tawarkan). Tapi waktu yang kita berikan ternyata sangat penting membantu kehidupan mereka.

Tidak ada yang tahu di pikiran mereka saat bercerita: kalut, bingung, sedih, marah, takut, dan segudang emosi lainnya. Sesepele apapun yang kita lakukan, bisa jadi itu yang “menyelamatkan” kehidupan mereka. Mungkin ada yang tangisnya jadi berhenti, tangisnya berubah jadi tawa, sedihnya berubah jadi haru karena masih ada yang memperhatikan, niat buruknya menjadi tidak terlaksana, dan seribu kemungkinan lainnya yang bisa terjadi. Percayalah, memperhatikan sesama tidak sulit dan tidak melelahkan; bisa dilakukan dalam situasi apapun dan kepada siapapun bila kita niat melakukannya.

Dan hal yang paling penting untuk diingat: pasanglah telinga tanpa menghakimi. Sepertinya ini mudah tapi sulit dilakukan. Sifat manusia yang senang menghakimi bisa membuat orang yang bercerita menjadi jengah sendiri dan enggan sehingga kapok bercerita. Tidak ada seorang pun yang senang dihakimi, apalagi semua manusia sama-sama berdosa.

Selain itu, jangan buru-buru mencari solusi sehingga kita lebih fokus pada masalahnya, bukan individunya. Dulu aku selalu panik bila ada yang curhat, beranggapan aku harus memiliki solusi bak konselor ternama. Tapi lama kelamaan aku sadar bahwa solusi bukanlah yang utama, kehadiran kitalah yang utama. Kita ada baik dalam bentuk nyata atau virtual dengan hati dan pikiran yang fokus padanya. Itu sudah cukup membantu. Fokus pada manusianya, bukan saja ceritanya.

Semoga kasus bunuh diri semakin menurun karena tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, apapun itu. Jangan sampai nurani kita amblas dengan hal-hal yang sementara hingga mengabaikan manusia di sekitar kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s