#27 Abu

Dari dulu aku tahu di dunia ini tidak ada yang abadi. Seiring waktu aku juga semakin menyadari bahwa dunia ini penuh dengan hal yang nisbi. Nisbi dalam memandang kebenaran, nilai, atau apapun.

Suatu hari di Oktober 2014 aku diharuskan bernegosiasi dengan pihak yang memiliki posisi tawar lebih tinggi dari timku. Negosiasi dilakukan secara tatap muka sehingga aku harus bisa meyakinkan mereka, tanpa keraguan. Sebelum aku bicara dengan mereka, seorang kakak dari jurusan lain bertanya bagaimana strategiku bila mereka mengalihkan permintaan kami menjadi keinginan mereka.

Aku lantas menjawab pertanyaannya dan ia sependapat denganku. Terlepas dari hal itu, aku tidak terlalu suka berdiplomasi namun dalam hal tertentu aku memang harus berdiplomasi, termasuk dalam pekerjaan bersama kami. Jujur, apa yang akan kami katakan bukanlah 100 % kebenaran namun tidak 100 % salah. Intinya ada informasi yang sengaja tidak kami buka.

Menurut kakak itu, aku adalah orang yang di satu sisi terlalu lugas meskipun aku pandai bernegosiasi. Aku yang jelas tidak nyaman dengan keadaan itu mencurahkan isi hatiku padanya. Ia lantas menenangkan aku, “Pin, dunia ini gak selalu hitam dan putih. Kita sama kok. Aku juga gak suka hal begini.” Ya, terlepas dari ketidaknyamananku, negosiasi berhasil dan timku mendapatkan apa yang kami harapkan.

Juni 2017 aku kehilangan kepercayaan pada salah satu pihak yang aku percayai sebagai pihak yang mumpuni dan kredibel. Sepele, karena pihak tersebut dengan sengaja tidak menghitung hal yang menurutku amat harus dihitung. Saat kutanya mengapa ia tidak menghitung hal penting tersebut atas dasar keadilan, dengan entengnya dijawab “Mbak Evelyne, hidup itu jangan terlalu linear dan lurus. Capek kalau begitu terus, Mbak.” Aku berakhir dengan berdebat cukup sengit hingga akhirnya ia sepakat untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

Adalah benar bahwa dunia itu tidak melulu hitam dan putih, benar dan salah, baik dan buruk. Ada sesuatu di tengah-tengah semua yang mutlak tersebut dan setiap orang pasti pernah terjebak di antaranya.

Mengingat kembali materi salah satu mata kuliah pilihan yang sempat kuambil (tentu saja ini di luar jurusanku): relativisme etis. Maksudnya kebenaran itu bergantung pada cara pandang setiap individu. Contoh?

Sebagian memandang seseorang yang telah memiliki pasangan tidak selayaknya menggoda lawan jenisnya (dalam hal orientasi seksual straight). Sebagian memandang sebatas menggoda tidak jadi masalah asalkan ia memiliki benteng yang kuat untuk tidak terjerumus ke dalam perselingkuhan. Sebagian lagi beranggapan bahwa berselingkuh pun tidak masalah dengan segudang argumennya sendiri. Mana yang benar? Semua bergantung pada nilai dan pandangan hidup masing-masing pribadi. Itulah relativisme.

Tapi di atas segala relativisme tersebut apakah tidak ada pegangan yang mutlak? Ya tentu saja ada: perintahNya.

Manusia diberi akal sehat di samping perasaan. Kadang salah satu mendominasi yang lainnya namun kita harus berusaha agar tercipta keseimbangan antara sisi rasional dan perasaan. Aku sendiri biasanya lebih didominasi oleh sisi rasional ketimbang perasaan. Akibatnya? Aku kurang peka, kurang pandai membaca perasaan orang lain, terlalu to the point sehingga terkesan “jahat”, dan agak sulit menerima alasan yang menurutku kurang masuk akal (perlu banyak orang meyakinkanku bahwa aku harus menerima alasan itu).

Aku sadar bahwa posisi di antara ekstrem kiri dan kanan tidak mungkin lenyap. Sebagai manusia kecil, aku harus mengerti dan menerima itu. Saat ini sudah seharusnya aku menikmati apa yang tidak bisa kuubah. Ada hal yang lebih penting daripada mengubah hal yang tidak bisa diubah: tidak kehilangan pegangan hidup yang utama, memiliki orang-orang yang menguatkan dalam hal positif, dan fokus pada hal yang bisa dikendalikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s