#26 Kesal

Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan cerita dari teman-temanku mengenai betapa kesalnya mereka. Mereka mencurahkan perasaan dongkolnya di sore hari, sudah paham bahwa aku jarang pegang ponsel di jam kerja. Sore ini, saat seorang sahabatku bercerita tentang kekesalannya, aku teringat peristiwa di suatu sore Juni 2016.

Seingatku hari itu berjalan dengan lancar. Aku sudah berpamitan pulang. Ketika aku sudah di ambang pintu, seorang sahabat bertanya, “Kapan pindahin barang ke rumah, Pin?” Dan saat itu, kolegaku yang lain (yang tidak tahu bahwa aku kos) pasti mendengar ucapannya. Berhubung lokasiku sudah di luar ruangan, aku melenggang berjalan dan tidak kembali ke dalam untuk menjawabnya. Ceritanya pura-pura tidak dengar.

Aku sebelumnya sudah wanti-wanti padanya agar tidak menceritakan pada siapapun bahwa selama hampir 2 bulan aku tinggal di tempat kos. Maksudku agar orang-orang tidak khawatir padaku yang saat itu sedang heboh-hebohnya “membagi” diri ke sana ke mari. Aktivitasku saat itu membuat orang-orang di lingkunganku merasa khawatir dengan kesehatanku. Pasti mereka akan lebih khawatir lagi bila aku kos sehingga kupikir sebaiknya aku menceritakan pada seorang rekan yang paling kupercaya bahwa aku kos. Setidaknya ada yang tahu selain pihak keluarga, pikirku.

Apa yang kurasakan saat berjalan ke arah gerbang luar adalah sedikit kesal. Tenang, kesalnya tidak sampai marah. Kesal sesaat saja. Waktu itu kuganti haluanku: berbelok menuju taman kesukaanku di sebelah barat kampus untuk meredakan rasa kesal sebelum pulang. Aku berdiam diri memandangi bunga teratai yang masih kuncup.

Aku berpikir mengapa aku harus kesal karena ditanya begitu?
Maksud dia pasti baik bertanya seperti itu.
Mungkin saja dia lupa kesepakatan denganku semula.
Dia pasti tidak sengaja bertanya demikian.
Dia pasti tidak berniat membocorkan hal itu.
Berbagai alasan muncul dalam perenungan singkat di sana. Aku masih berdiam diri di sana selama beberapa menit sampai aku yakin kesalku sudah hilang.

Lalu aku mengirim pesan pada sahabatku sebelum aku pergi dari taman itu: “Maaf ya, tadi aku sengaja gak jawab pertanyaanmu karena aku kesel ditanya begitu. Sekarang aku udah gak kesel lagi kok. Mohon maafin aku ya.” Akhirnya aku pulang lalu segera membersihkan diri.

Sesampai di kamar, di ponselku ternyata sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari sahabatku. Aku menelepon balik namun ia tolak. Beberapa detik kemudian ia meneleponku.

“Pin, maaf, Pin aku tadi keceplosan jadi bikin kamu kesel. Gak ada niat sama sekali bikin yang lain tau, Pin.”

Selanjutnya adalah tawa membahana dariku karena mendengar nada suaranya yang panik. Aku pergi ke pelataran kamarku di lantai teratas, memandangi kerlip lampu kendaraan yang melalui jalan dan gesekan antardaun di halaman kosan. Malam itu kami berbincang-bincang sebentar. Kami saling meminta maaf.

Aku meminta maaf karena terlalu sensitif sehingga merasa kesal dengan pertanyaanya. Aku mengatakan padanya bahwa aku sangat menyesal membuang waktuku beberapa menit untuk merasakan kekesalan yang tidak berfaedah. Ia menolak anggapan bahwa aku sensitif karena katanya aku adalah orang yang akurat. Lalu kami tertawa terbahak-bahak dalam waktu yang agak lama. Belum pernah aku mendengarnya tertawa di telepon selega tawanya hari itu.

“Tapi yang lain jadi tau dong kamu ngekos gara-gara aku aduuuuh.”
“Hahaha gak usah dipikirinlaaah. Lusa aku pulang ke rumah, jadi pindahannya lusa. Nanti juga aku cerita ke mereka kalau aku sempet kos. Udah dijawab ya pertanyaannya yang tadi aku cuekin,” kataku dengan nada bercanda.

Kami tertawa terbahak-bahak lagi. Ia tahu betul aku seperti apa dalam menyikapi permasalahan (dan kurasa juga sebaliknya). Selama kami bekerja bersama, seingatku belum pernah sehari pun terlewatkan tanpa tertawa seberat apapun keadaannya. Dan aku benar-benar bersyukur kami begitu rukun. Rukun bukan karena tidak pernah ada masalah; justru masalah membuat kami semakin saling mengenal dan rukun.

Kesal itu wajar dan kerap tidak terelakkan. Keterbukaan kedua pihak pasti akan membantu menyelesaikan semuanya. Seperti kata seorang senior: tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Kesal boleh, jangan dibiarkan berlarut-larut. Komunikasikan juga perasaan kita dengan cara yang baik, memaafkan, dan meminta maaf 🙂

Semoga pembaca yang kesal setelah ini tidak kesal lagi dan pembaca yang tidak kesal bisa tertawa (atau setidaknya tersenyum) setelah ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s