#24 Pengganti

Dua atau tiga minggu yang lalu, di suatu Minggu sore, aku kembali ke perantauan menggunakan layanan bus seperti biasa. Jadwal keberangkatanku pun seperti biasanya. Ketika menunggu pintu bus dibuka, ada tiga wanita yang sepertinya adalah keluarga: dua ibu paruh baya dan seorang perempuan yang kuyakin dia lebih muda dariku.

Kami berempat mengambil 4 bangku di deretan terdepan bus. Aku duduk bersebelahan dengan seorang ibu dari tiga wanita tadi (sebut saja Bu Marni). Di beberapa kilometer perjalanan awal, aku dan Bu Marni tidak mengobrol. Hingga akhirnya Bu Marni menanyakan apakah aku setiap minggu rutin bepergian dengan bus.

Obrolan kami terus mengalir mulai dari studi, pekerjaan, hingga tentang pasangan hidup. Saat Bu Marni menanyakan usia dan status pernikahanku, Bu Marni tidak seperti kebanyakan wanita Indonesia yang gemar dengan ekspresi “Ya ampun udah umur segini kok masih lajang? Ayo cepet cari pacar!”

Ternyata Bu Marni ini memiliki pemikiran yang sama denganku: tidak perlu pacaran atau menikah hanya karena usia sudah dianggap matang, apalagi karena didesak lingkungan. Untuk hal prinsip seperti ini, aku tidak mengatakan pemikiranku, Mamaku, dan Bu Marni adalah yang paling benar karena itu adalah hak setiap orang untuk memilih jalan hidupnya. Setidaknya aku, Mama, dan Bu Marni memiliki pandangan yang sama untuk hal ini.

Kami masih terus mengobrol berbagai topik hingga akhirnya bus berhenti di pangkalannya. Aku dan Bu Marni berpisah. Ada satu kalimat Bu Marni yang menurutku sangat mengena, saat kami membahas tentang betapa mengerikannya pergaulan anak muda masa kini:

“Kalau kita mau berubah untuk jadi orang yang lebih baik, pasti Tuhan siapkan ganti yang lebih baik kok. Saya percaya itu aja.”

Bu Marni bukan motivator ulung, apalagi kaum cendekiawan. Bu Marni hanyalah satu dari sekian banyak ibu rumah tangga yang mengabdikan dirinya di rumah untuk mengurus keluarganya. Kekhawatiran Bu Marni dan Mamaku adalah sama, begitu juga dengan ibu-ibu lainnya. Kata-kata beliau mengingatkan saya pada Mama yang pernah mengatakan hal yang sama padaku.

Terima kasih atas hangatnya obrolan kita, Bu Marni. Semoga suatu hari kita bisa berjumpa lagi. Semoga para anak-anak (termasuk aku) bisa mengerti kekhawatiran orang tua masing-masing agar bisa menjaga diri di mana pun dan kapan pun, terutama di tengah lingkungan yang begitu beragam. Tuhan memang bisa memakai siapapun untuk mengingatkan kita 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s