#23 Langkah

Tiga hari aku berkeliling gedung setiap interval waktu tertentu. Mengetuk dan melongok ke setiap ruangan yang kudatangi. Aku memutuskan mengakhirinya setelah dua tahun lebih. Tak banyak yang tahu tentang keputusanku itu. Hanya orang-orang terdekatku dan pihak-pihak yang kuanggap perlu untuk mengetahuinya yang tahu sejak beberapa bulan lalu.

Dua tahun adalah usia yang cukup dini tapi selama itu pula sudah banyak hal yang dilalui. Tidak sedikit yang kaget dengan keputusan itu bahkan beberapa orang mengajakku mengobrol empat mata di saat-saat akhir. Bukan untuk mengubah keputusan yang sudah final, tapi menelisik lebih dalam tentang keputusan itu. Upaya untuk mengubah keputusanku itu sudah dilakukan juga oleh beberapa orang sejak 2016. Aku tetap teguh pendirian.

Obrolan-obrolan terakhir bersama mereka yang jarang bersamaku sungguh menggetarkan hati. Aku jadi tahu bahwa ternyata selama ini orang-orang mengamati setiap langkahku di sana, padahal jarang bertemu. Bahkan ada yang masih mengingat dengan jelas kejadian 3 tahun yang lalu, sebelum aku seperti saat ini – yang mana aku tidak pernah menyangka akan ada yang masih mengingat momen penting di hidupku saat itu.

Getaran kecil itu bukan disebabkan oleh perhatian mereka terhadapku saja tapi juga mereka banyak yang menaruh harapan besar untukku di sana. Obrolan kecil itu begitu sarat makna. Aku hanya duduk selama kurang lebih satu jam untuk mengobrol dengan satu orang (dilanjutkan dengan beberapa satu-jam-bersama-yang-lainnya) tapi waktu singkat itu telah membuatku mengenal kehidupan mereka lebih jelas, membuatku menyadari bahwa aku membuat mereka merasa lebih dari kehilangan.

Hingga tiba saatnya hari itu, hari aku meninggalkan semuanya di sana dan (mungkin) tidak akan pernah kembali ke jalur yang sama di sana. Tidak ada penyesalan, hanya ada rasa kehilangan yang kuyakin lekang oleh waktu.

Untuk mencapai hari terakhir bukanlah perkara mudah. Sudah dipikirkan matang setahun kira-kira. Mungkin aku yang menjalani tidak merasa risau ketika aku berada di hari itu tapi ada orang yang bahkan sampai menit-menit terakhir pun masih belum bisa menerima kenyataan itu.

Tentu, aku akan merindukan jalur yang selalu kulalui hampir setiap hari sejak 2010, pribadi-pribadi yang senantiasa mewarnai hari-hari sejak 2 tahun belakangan, suasana itu, dan segalanya yang tertinggal di sana. Tapi biarlah semua itu tetap menjadi bagian yang telah lalu.

Semua adalah insan dewasa yang bisa menghargai keputusan seseorang pada akhirnya, walaupun awalnya memang tidak mudah untuk mengerti keputusan “aneh” yang dibuat seseorang.

Akhirnya aku berjalan menyusuri jalan-jalan di sana untuk melengkapi perasaan hangat itu, menyeretku kembali ke masa-masa pertama aku berada di sana. Dulu langkahku masih dipenuhi keraguan dan kadang ada rasa takut. Kini, langkahku lebih pasti dan tidak ada lagi rasa takut, apalagi penyesalan.

Terima kasih semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s