#21 Pantai

Maret 2015, ketika pikiranku disibukkan dengan banyak target pribadi yang satu per satu terselesaikan dengan cukup baik, aku dipertemukan denganmu yang sama sekali tidak kuharapkan sebelumnya. Aku menyadari sosokmu sejak 2013 namun kubiarkan berlalu. Hingga akhirnya Maret 2015, pertama kalinya kita saling menyadari keberadaan masing-masing. Semesta yang memaksa.

Aku masih ingat sore itu kamu selesai dengan lebih dulu dan aku masih berkutat di laboratorium. Kamu masuk ke laboratoriumku, kukira mencari temanmu. Ternyata kamu sengaja menungguku.

“Udah beres?”
“Eh? Ini baru beres.”
“Habis ini mau ke mana?”
“Errr, makan malam.”
“Aku ikut ya kita makan bareng. Boleh?”
“Ok, aku pamit dulu sama yang lain.”

Aku ingat saat itu hujan gerimis dan kita makan di dekat kampus. Aku memesan mie bakso dan kamu memesan nasi rawon. Sejujurnya aku lupa berapa kali kita makan bersama. Sepertinya bisa dihitung jari. Pembicaraan kitalah yang tak terhitung.

Jujur, aku merasa sangat beruntung mengenalmu dengan baik, juga bangga. Saat aku sedang kalut dengan pekerjaan yang tak kunjung usai, kamu mengirimkan foto pemandangan tempatmu menghabiskan waktu. Aku benar-benar terhibur saat itu tapi aku tidak mengatakannya.

Kamulah (di samping keluarga) yang turut meyakinkan aku untuk berani mengambil tanggung jawab lebih. Kamulah orang pertama di lingkunganku yang begitu klik denganku untuk banyak hal, terutama pemikiran yang sifatnya prinsip. Kita saat itu begitu bebas mengungkapkan pendapat sesuka hati karena kita memang orang yang bebas.

Hingga hari itu tiba.

Aku bersyukur.

Aku masih sangat ingat ketika kamu mengatakan bahwa menurutmu dosa terbesar manusia adalah kebodohan. Saat kamu mengatakannya aku hanya tergelak dan menyeruput minumanku. Kini aku mengerti kalimat itu.

Kini kita masih bisa saling memandang, hanya saja dari kejauhan. Setiap kali aku melihatmu ketika kamu melihatku, aku tidak tahu harus tersenyum, menyapa, atau membuang wajah pura-pura tak sadar diperhatikan olehmu. Sangat tidak nyaman rasanya, menyiksa, menyedihkan. Kurasa saat ini aku lebih nyaman berada di belakangmu, memandangi punggungmu tanpa takut dilihat olehmu.

Aku tahu aku bodoh hanya diam di belakang. Tapi aku tahu kamu pun bodoh karena kamu selalu berbalik melihat ke belakang. Kita memang bodoh, bukan? Kita akan tetap menjadi dua insan bebas yang senang berpikir dan tertawa sesuka hati.

Terima kasih, J.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s