#4 Melepaskan

Sebenarnya aku sempat ragu untuk menulis tentang topik ini di sini. Tapi setelah kupikir, tidak ada salahnya untuk berbagi. Tidak semua orang harus mengalami sendiri segala sesuatunya untuk belajar.

Aku bisa dibilang seorang yang bertindak cukup cepat, cenderung tidak sabar juga. Dalam banyak hal aku tidak bisa membiarkan masalah yang ada menumpuk hingga akhirnya tak teratasi. Di kesempatan lainnya aku tidak tahan membiarkan diriku terjebak menjalani polemik yang sebenarnya tidak perlu terjadi (baca: drama).

Aku orang yang minimalis, saklek, berorientasi keep-it-simple, selalu berusaha hingga mencapai standar tertentu namun jika tidak bisa tercapai kepuasan yang diharapkan maka aku akan sadar dan berhenti. Sesederhana itu. Termasuk juga ke dalam hubungan antarpersonal.

Mungkin sifat cepat bertindakku itu jugalah yang membuatku tidak pernah bertahan lama dalam suatu hubungan (baca: pacaran). Tidak jarang aku merasa heran dan kagum pada pasangan (belum menikah) yang asyik menjalin hubungan menahun bahkan sudah lebih dari satu dekade. Rasanya aku tidak pernah membiarkan diriku bertahan menunggu perubahan itu datang atau membiarkan diri ini terbuai oleh bunga-bunga indah yang tidak abadi jika aku sudah tahu arah jalannya ke mana.

Atau mungkin aku sudah lelah. Mungkin.

Aku sadar tidak semua masalah dalam hubungan bisa diatasi dalam hitungan waktu yang singkat. Tidak semua masalah juga harus berakhir dengan kata “putus”. Aku juga tidak sempurna, memiliki kekurangan dan kesalahan. Lantas kedua pihak akan berusaha memperbaiki itu. Bila semua sudah dilakukan tetapi hasilnya nihil? Aku sadar tidak mungkin puas menjalani hidup dengan standar yang biasa saja di saat aku tahu aku bisa dan layak untuk hidup dengan standar yang tidak biasa saja. Itulah mengapa aku memilih untuk melepaskan.

Banyak orang berpikir dengan logika sunk cost fallacy sehingga sulit melepaskan hal yang tidak beres. Sunk cost fallacy adalah keadaan di mana seseorang sulit melepaskan sesuatu (apapun) akibat banyaknya investasi yang ia tanamkan (waktu, uang, tenaga, dan sumber daya lainnya). Banyak (tidak semua) pasangan merasa “sayang” untuk melepaskan hubungannya yang sebenarnya tidak beres karena mereka sudah berpacaran sekian tahun, banyak berinvestasi untuk waktu, biaya, dan perasaan.

Pilihan adalah hak setiap orang: mempertahankan atau melepaskan. Ada saatnya aku bertahan. Ada saatnya aku melepaskan. Setiap orang memiliki batas, standar, dan pilihan masing-masing; tidak ada yang benar atau salah. Intinya adalah tidak perlu menjadikan kisah orang lain patokan untuk diri sendiri karena setiap orang memiliki kisah unik yang berbeda, tidak bisa dianggap (apalagi diperlakukan) sama.

Tidak perlu menyesal saat melihat ada yang lebih baik ketika memutuskan untuk bertahan. Pun, tidak perlu sedih ketika memutuskan untuk melepaskan jika itu membuat keadaan jadi lebih baik. Don’t settle for less than you deserve.

Posisiku saat menulis ini adalah lajang, puas, dan bahagia dengan diriku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s