#3 Selamat Tinggal 2016

Tahun 2016 sudah berlalu dua hari yang lalu. Tahun kemarin penuh dengan kejutan dan puji Tuhan aku masih dipelihara-Nya.

Januari: Aku bertemu dengan suatu komunitas baru di kota lain dan itu cukup membuat pikiran dan fisik terkuras karena memikirkannya. Puji Tuhan pertemuan tak terduga itu membawa dampak baik bagiku dan keluarga.

Februari: Kerja praktek di industri farmasi dekat rumahku membuatku ternganga kagum akan dedikasi orang-orang yang bekerja di dalamnya. Sebelum mulai kerja praktek, aku dihubungi bahwa kontrak kerjaku telah resmi turun. Aku diminta menandatangani kontrak itu. Dengan penuh kekalutan, diiringi tetesan air mata, dan restu orang-orang terkasih, aku memutuskan untuk mengikuti setiap kesempatan yang tiba di depan mataku. Dan inilah titik awal pergumulan yang semakin meruncing di akhir tahun.

Maret: Masih kerja praktek di tempat yang sama. Aku merasa semakin menikmati walaupun keadaan fisik cukup terkuras karena jarak yang ditempuh bukan saja dari rumah ke tempat kerja praktek, tapi juga ke tempat kerja yang sesungguhnya.

April: Aku bertemu dengan beberapa teman baru di tempat kerja praktek kedua. Tidak semenyenangkan suasana kerja di tempat pertama. Namun demikian, aura positif dari orang-orang yang kutemui tidak kalah hebatnya. Aku mulai tahu sepertinya jenis pekerjaan yang cocok untukku.

Mei: Bulan ini cukup mengerikan untukku dari segi emosional dan finansial. Aku terpaksa harus kos di dekat tempat kerja praktek ketiga. Dan masih, bolak-balik ke tempat kerja yang sesungguhnya. Seharusnya aku mulai mempersiapkan ujian sejak bulan ini tapi kenyataannya aku masih disibukkan dengan berbagai hal yang… ah sudahlah. Aku bahkan meminta restu dari para atasan untuk cuti tidak ikut ujian dulu namun permohonan langsung ditolak, tak tanggung-tanggung oleh 3 orang sekaligus.

Juni: Ujian yang menurutku cukup mengerikan dimulai. Persiapan sangat minim dan cenderung dipaksakan. Setelah dijalani, memang tidak setegang seperti sebelum ujian. Tapi ketegangan tidak berhenti di situ. Penantian pengumuman ke tahap selanjutnya selalu membuatku meneteskan air mata di tengah doa-doa yang dipanjatkan.

Juli: Puji Tuhan tahap pertama diluluskan-Nya. Melaju ke tahap kedua, sidang. Ujian tahap kedua cukup membuatku ngeri karena aku melakukan kekonyolan saat itu. Beruntung, lagi-lagi aku selamat. Dengan demikian aku melaju ke persiapan tahap ketiga.

Agustus: Ujian tahap ketiga tidak semenegangkan ujian-ujian sebelumnya karena persiapannya tidak sesibuk tahap pertama dan kedua. Namun ternyata tetap saja pada pelaksanaannya membuatku cukup ketar-ketir, terutama pada saat menunggu hasil akhirnya apakah lulus atau tidak. Puji Tuhan aku diizinkan-Nya lulus tanpa peringatan untuk semua tahap ujian.

September: Gelar itu akhirnya tersemat di belakang namaku. Sebenarnya tidak selega itu karena aku masih dihantui pergumulan yang kuputuskan untuk digumulkan sejak Februari kemarin. Akhirnya aku memutuskan untuk bicara ke atasan-atasanku mengenai rencana masa depanku. Penerimaan mereka sangat melegakanku. Tetapi ada hal lain yang baru kuketahui dari sakit perut bulanan yang kualami 6 tahun terakhir dan itu cukup mengguncangku.

Oktober: Aku hampir putus asa dengan diri sendiri awalnya dengan penyakit di rahim yang kualami karena sejujurnya hal itu sangat menghambat produktivitasku terutama ketika tamu bulanan tiba. Makanan pun ada 8 jenis yang harus aku hindari. Tapi bersyukur sekali dengan keberadaan keluarga yang senantiasa menguatkan, begitu pun dari lingkungan kerja. Seorang kakak tingkat tiba-tiba menyapa namun aku tidak menyangka kelanjutannya.

November: Aku menjawab keputusanku terkait rencana masa depanku dan tawaran di tempat kerja. Jawaban itu tentu tidak menyenangkan bagi kebanyakan pihak namun setidaknya itulah yang bisa aku tawarkan, setidaknya hingga tahun 2017. Aku tidak tahu apa yang ada di depan nanti. Keputusanku bisa tetap atau berubah.

Desember: Tahun 2016 ditutup dengan serangkaian kejadian yang cukup menyenangkan di bulan ini. Termasuk silaturahmi bersama keluarga dan beberapa aktivitas baru yang membuka pandanganku tentang banyak hal. Di bulan ini juga merupakan bulan perpisahan sementara dengan para senior di tempat kerja karena mereka harus menimba ilmu ke negara lain.

Terlalu banyak hal yang tidak bisa dideskripsikan di tahun 2016. Banyak teguran untukku yang membuatku semakin yakin agar aku tidak boleh sesekali menyepelekan kekuatan yang di Atas. Semoga 2017 ini membuat kita semua semakin menguatamakan perkara langit daripada yang di bumi. Cheers! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s