#2 Senyum

Disclaimer: ini adalah hasil riset kecil-kecilan pribadi yang sudah terjadi kerap dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Aku hanya ingin berbagi hasilnya di sini. Semoga ada manfaatnya.

Hipotesis: orang banyak yang asyik di zona nyamannya sendiri sampai “malas” bergaul dengan orang yang butuh kasih sayang.

Sebenarnya aku tergelitik ingin menulis topik ini sejak beberapa tahun yang lalu tapi berhubung aku hidup di lingkungan yang begitu menjunjung tinggi metode penelitian, akhirnya baru kesampaian menulis sekarang karena hipotesisku di atas telah terbukti. Tolong, jangan minta aku menjabarkan observasiku selama beberapa tahun terakhir di sini.

Orang dalam lingkup sempit sepertinya bisa digolongkan menjadi 2 tipe: fleksibel dan konservatif. Maksudku di sini fleksibel adalah dia berteman baik dengan semua orang, bahkan memiliki sahabat baik dari yang kurang-kasih-sayang. Konservatif, dia berteman baik dengan semua orang, tapi sahabatnya hanyalah orang yang sudah-berlimpah-kasih-sayang. Fleksibel bisa meningkatkan pengetahuan yang senasib dengannya tapi juga memberi pengetahuan kepada yang tidak senasib. Konservatif ya hanya berambisi meningkatkan pengetahuan yang senasib saja.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kedua tipe ini. Tapi akan menjadi agak “hambar” jika kita hanya membatasi pergaulan dekat kita dengan yang itu-itu saja, dengan yang senasib saja. Semoga kata kuncinya sudah dapat diterima dan dimengerti.

Untuk yang kurang-kasih-sayang, tidak perlu nasihatin sampai berurai air mata, khotbah berbusa-busa sampai pita suara serak, sindir-sindir nyinyir, dan kuota internet habis untuk ngotbahin pacar di WA sehari tiga kali sampe pacarnya muak karena yang khotbah nggak mengamalkan yang dia khotbahin. Sentuhan bagi yang kurang-kasih-sayang bisa dilakukan dengan cara sederhana mulai dari tersenyum. Aku bilang tersenyum bukan tanpa bukti, justru sebaliknya: terlalu banyak bukti baik.

Intinya, cobalah lihat sekitar dengan seksama. Jangan jadi hakim untuk sesama, apalagi kalau kita melihat ada orang “aneh”.

Kalau ada yang care kadang kita pikir dia lebay karena terlalu baby sitting. Tapi kalau tidak ada yang perhatian, lantas yang bilang lebay itu mau merhatiin gak? Sedikit contoh kasus nyata saja, 3 bulan lalu aku ngejar-ngejar seorang teman di angkatan karena nasib akademiknya di ujung tanduk (sebut saja A) dan aku dibilang lebay oleh si B yang adalah sahabat si A. Lho, lebay dari mana ya ketika pihak dekanat heboh sampai turun tangan? Dari situ aku mulai mikir bahwa si B ini (yang jauh lebih deket dan kenal A) kayaknya nggak sepeduli itu deh. Ketika sahabatnya kesulitan banget bukannya didukung penuh, malah sempet-sempetnya ngatain aku lebay di belakang. Pas dikasih tau sama si C bahwa B ngatain aku lebay berkali-kali di belakang, aku ngakak dan kasihan sama A. Duh, pria yang sangat gak jantan dan cuma modal lip service. Kamu butuh piknik, B.

Semoga aku dan kamu yang baca ini diberi kekuatan untuk mau peduli dan menjamah hati yang kurang-kasih-sayang itu ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s