#22 Kenangan

Dulu ketika aku bermain bersama teman-temanku hingga hampir larut malam, pasti Mama menelepon, minimal mengirim pesan singkat untuk menanyakan keberadaanku, apakah aku sudah mengisi perutku. Responsku biasanya menjawab seperlunya dan seringnya aku tidak balik bertanya keadaan Mamaku.

Dulu ketika aku hendak bepergian jauh, Mama selalu paling heboh menyiapkan perlengkapanku padahal aku yang akan pergi tidak merisaukan apapun. Menurutku apa yang sudah kusiapkan cukup adanya. Tapi Mama selalu memberikan sentuhan terakhir pada ransel sang anak sulung. Sentuhannya selalu membuatku terselamatkan pada saat-saat sukar di luar.

Dulu ketika aku kecil, aku sering sakit. Mulai dari radang tenggorokan hingga demam berdarah. Usia remaja pun penyakitku makin beragam seperti cacar hingga tipes. Mama yang mencari cara agar aku sembuh. Mulai dari membelikan obat, ke dokter, hingga rawat inap di rumah sakit.

Dulu ketika aku memiliki masalah di sekolah, Mama selalu datang menghadap panggilan guruku. Seingatku tak pernah sekalipun Mama tidak hadir ketika diundang untuk membicarakan anaknya yang berjiwa bebas ini. Sepulang dari pertemuan kecil dengan wali kelasku, Mama tidak pernah memarahiku. Baginya masalahku telah selesai: aku telah dihukum guruku dan aku meminta maaf.

Dulu setiap kali aku hendak memasuki dunia pendidikan yang baru, Mama yang berjuang agar aku masih bisa terus bersekolah, hingga kuliah. Bahkan tanpa kami sangka aku akan jadi manusia yang sekarang ini.

Dulu ketika aku bercerita, Mama selalu fokus menyimakku. Namun ketika Mama hendak bercerita, aku tidak setiap saat ada untuknya. Mungkin fisikku ada di hadapannya tapi pikiranku kadang berkelana ke tugas atau hal lain yang menurutku lebih menarik daripada ceritanya.

Selalu anak-anak dulu barulah Mama. Ya Tuhan, aku mohon…….

Sudah dulu ya, mataku mulai berair.

 

#21 Pantai

Maret 2015, ketika pikiranku disibukkan dengan banyak target pribadi yang satu per satu terselesaikan dengan cukup baik, aku dipertemukan denganmu yang sama sekali tidak kuharapkan sebelumnya. Aku menyadari sosokmu sejak 2013 namun kubiarkan berlalu. Hingga akhirnya Maret 2015, pertama kalinya kita saling menyadari keberadaan masing-masing. Semesta yang memaksa.

Aku masih ingat sore itu kamu selesai dengan lebih dulu dan aku masih berkutat di laboratorium. Kamu masuk ke laboratoriumku, kukira mencari temanmu. Ternyata kamu sengaja menungguku.

“Udah beres?”
“Eh? Ini baru beres.”
“Habis ini mau ke mana?”
“Errr, makan malam.”
“Aku ikut ya kita makan bareng. Boleh?”
“Ok, aku pamit dulu sama yang lain.”

Aku ingat saat itu hujan gerimis dan kita makan di dekat kampus. Aku memesan mie bakso dan kamu memesan nasi rawon. Sejujurnya aku lupa berapa kali kita makan bersama. Sepertinya bisa dihitung jari. Pembicaraan kitalah yang tak terhitung.

Jujur, aku merasa sangat beruntung mengenalmu dengan baik, juga bangga. Saat aku sedang kalut dengan pekerjaan yang tak kunjung usai, kamu mengirimkan foto pemandangan tempatmu menghabiskan waktu. Aku benar-benar terhibur saat itu tapi aku tidak mengatakannya.

Kamulah (di samping keluarga) yang turut meyakinkan aku untuk berani mengambil tanggung jawab lebih. Kamulah orang pertama di lingkunganku yang begitu klik denganku untuk banyak hal, terutama pemikiran yang sifatnya prinsip. Kita saat itu begitu bebas mengungkapkan pendapat sesuka hati karena kita memang orang yang bebas.

Hingga hari itu tiba.

Aku bersyukur.

Aku masih sangat ingat ketika kamu mengatakan bahwa menurutmu dosa terbesar manusia adalah kebodohan. Saat kamu mengatakannya aku hanya tergelak dan menyeruput minumanku. Kini aku mengerti kalimat itu.

Kini kita masih bisa saling memandang, hanya saja dari kejauhan. Setiap kali aku melihatmu ketika kamu melihatku, aku tidak tahu harus tersenyum, menyapa, atau membuang wajah pura-pura tak sadar diperhatikan olehmu. Sangat tidak nyaman rasanya, menyiksa, menyedihkan. Kurasa saat ini aku lebih nyaman berada di belakangmu, memandangi punggungmu tanpa takut dilihat olehmu.

Aku tahu aku bodoh hanya diam di belakang. Tapi aku tahu kamu pun bodoh karena kamu selalu berbalik melihat ke belakang. Kita memang bodoh, bukan? Kita akan tetap menjadi dua insan bebas yang senang berpikir dan tertawa sesuka hati.

Terima kasih, J.

#19 Hari 14

If you were only allowed to watch one movie for the rest of your life,
what movie would it be and why?

Pengen jawab trilogi dari John Wick tapi karena sejauh ini yang rilis baru dua film, aku pilih John Wick: Chapter 2.

Alasannya? Kereeeeeen banget dan melebihi ekspektasi. Sebagai pecinta film action aku merasa sangat terhibur nonton itu. Bahkan gak bikin bosen ditonton berkali-kali. Walaupun jalan ceritanya sederhana, tapi akting para pemainnya luar biasa didukung juga dengan soundtrack yang bikin makin greget.

#18 Hari 13

List your favorites: song, quote, food, vacation spot, photo

  1. Lagu: OneRepublic – Good Life
  2. Quote: “I do believe; help me overcome my unbelief!” (Mark 9:24) –> similar with “la foi peut déplacer des montagnes” (faith can move mountain – iman dapat memindahkan gunung)
  3. Makanan: sushi
  4. Tempat berlibur: tempat makan enak hahahaha
  5. Foto: Mama dan Lisa yang sedang berpelukan

#17 Hari 12

What are you most looking forward to in the next six months?

  1. Semua nilai masuk tepat waktu
  2. Kegiatan penting di bulan Mei bisa dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya
  3. Tugas baru
  4. Teman baru
  5. Lagu favorit baru
  6. Perkembangan yang positif untuk banyak hal

#16 Hari 11

What’s one thing that you would never change about yourself?

Hmmm. Banyak hal yang gak mau aku ubah tentang diriku yang sifatnya personal taste. Bukan karena malas, tapi menurutku gak ada state yang lebih appropriate untuk beberapa hal yang sifatnya personal. Karena diminta hanya menyebutkan satu maka jawabanku adalah: masa lalu.

Aku kan gak mungkin kembali ke masa lalu. Dan masa lalu adalah suatu hal yang sifatnya hakiki tidak pernah bisa tersentuh lagi. Hanya bisa diingat (kalau ingat) dan dijadikan pelajaran (kalau mau).